expr:class='"loading" + data:blog.mobileClass'>

Menata Hati Mensucikan Jiwa

FIMNY.org - SEMUA krisis yang muncul ke permukaan kehidupan manusia mulai krisis ekonomi, politik, sosial, hukum, keamanan dan moral, berawal dari krisis spiritual yang terjadi pada diri manusia. Karena itu dalam mengatasi berbagai krisis kehidupan yang menimpa umat manusia sepanjang sejarahnya, para nabi Allah senantiasa mengawali langkah mereka dengan Tazkiyatun Nafs.

Bahkan hal ini menjadi syarat mutlak untuk mengentaskan manusia dari berbagai krisis yang membelitnya. Langkah ini pula yang dilakukan oleh Imam Al Ghazali ketika menyaksikan berbagai krisis yang menimpa ummat manusia yaitu dengan menyusun kitab Ihya' Ulumuddin yang dimaksudkannya sebagai upaya “mensucikan jiwa“ dan mengisi kekosongan spiritual.

Jiwa adalah harta termahal. Kesucian jiwa menyebabkan kejernihan diri lahir batin, itulah kekayaan sejati. Banyak orang kaya harta tapi mukanya muram. Banyak yang miskin uang tapi wajahnya berseri.

Kebahagian memang bukan ditentukan oleh harta, tapi oleh jiwa yang ada di dalam diri. Membersihkan jiwa dari kemusyrikan dan cabang-cabangnya, merealisasikan kesuciannya dengan tauhid dan cabang-cabangnya, menjadikan nama Allah yang baik sebagai akhlaknya, disamping ubudiyah yang sempurna kepada Allah. Semua itu melalui peneladanan kepada Rasulullah SAW.

Pentingnya Tazkiyatun Nafs

Sesungguhnya penyebab timbulnya kotoran jiwa dan hati adalah kemusyrikan dan hal-hal yang berasal darinya. Pohon kemusyrikan mengeluarkan ranting-ranting yang banyak berupa ubudiyah kepada selain Allah kepada berbagai penyimpangan di jalan kesesatan, kepada akhlak yang rusak seperti ujub, sombong, dengki untuk taat kepada para thagut, maka hal pertama kali masuk tazkiyah adalah pembersihan hati dari kemusyrikan dan berbagai cabangnya.

Hati dan jiwa bisa saja masuk ke dalam berbagai kegelapan. Kegelapan nifaq, kekafiran, kefasikan dan bid'ah, kegelapan kebingungan dan keguncangan, kegelapan kemaksiatan untuk dosa, karena itu, terbebasnya hati dari berbagai kegelapan sehingga berada di dalam cahaya hidayah rabbaniyah dan bisa melihat segala sesuatu dengan cahaya tersebut termasuk tazkiyah. “Allah adalah pelindung orang-orng yang beriman, Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan pada cahaya” (QS Al Baqarah: 257).

Jiwa punya berbagai syahwat. Yang bersifat syahwat inderawi dan syahwat maknawi. Syahwat Inderawi adalah cinta makanan dan minuman. Syahwat Maknawi adalah senang balas dendam, cinta jabatan dan popularitas dan suka kultus diri. Pembersihan jiwa dari berbagai penyakit syahwat yang diharamkan itu termasuk tazkiyah.

Jiwa dan hati mengalami sakit sebagaimana jasad, lalu jiwa menderita berbagai penyakit ujub, sombong, terpedaya, dengki dan curang oleh karena itu pembersihan dari penyakit-penyakit ini termasuk tazkiyah.
Jiwa bisa terpengaruh oleh lingkungan, lintasan pikiran dan oleh rasa was-was karena itu tidak mengikuti hal itu termasuk tazkiyah.

Hati memiliki banyak penyakit, yaitu : (1) kufur, nifaq, kefasikan dan bid'ah; (2) kemusyrikan dan riya; (3) cinta kedudukan dan kepemimpinan; (4) kedengkian; (5) ujub; (6) sombong; (7) kebakhilan; (8) amarah dan zhalim; (9) cinta dunia; dan (10) mengikuti hawa nafsu.

Hati akan sehat jika di dalamnya mengandung : tauhid dan ubudiyah, ikhlas, shidiq kepada Allah, zuhud, tawakal, mahabbatullah, rasa takut dan harap, syukur, ridha, dan taubat.

Sarana-sarana Tazkiyah

Untuk mensucikan jiwa, diperlukan sarana-sarana :

Shalat. “Sesungguhnya shalat dapat mencegah perbuatan keji dan munkar” (QS. Al Ankabut: 25).

Zakat dan Infaq. Membersihkan jiwa dari sifat bakhil, kikir, menyadarkan manusia bahwa pemilik harta sebenarnya adalah Allah. “Yang menafkahkan hartanya (di jalan Allah) untuk membersihkannya” (QS. Al Lail (92): 18).

Puasa. Pembiasaan untuk mengendalikan syahwat perut dan kemaluan. “Diwajibkan atas kamu berpuasa, sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa” (Al Baqarah: 183)

Membaca Al Qur'an. Mengingatkan jiwa kepada berbagai kesempurnaan. “Apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, bertambahlah iman mereka karenanya” (QS Al Anfal: 2)

Dzikir. “Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram” (QS. Ar Ra'd: 28)

Haji. “Dan barang siapa mengagungkan syiar Allah, maka sesungguhnya itu timbul dari ketakwaan hati”. (QS. Al Hajj: 32)

Tafakkur. “Dan apakah mereka tidak memperhatikan kerajaan langit dan bumi dan segala sesuatu yang diciptakan Allah? (QS. Al A'raaf: 185)

Marilah kita mensucikan jiwa dengan terus mengingat Allah, baik saat beribadah maupun di luar aktivitas ibadah. Karena, itu adalah bagian dari inti ajaran Nabi Muhammad SAW yang mengajarkan tiga hal utama yang harus dijalani manusia, yaitu senantiasa mengingat Allah, mengembangkan sikap bersyukur dan mengerjakan ibadah sebaik-baiknya.

* Buletin KIMJA (FIMNY) Edisi 02/Thn I/Jumat, 20-26 Juni 2008.


Artikel Terkait Lainnya :



Comments
1 Comments
Widget edited by fimny

1 komentar:

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...