expr:class='"loading" + data:blog.mobileClass'>

Ketahanan Keluarga

FIMNY.org - Era globalisasi saat ini lebih didominasi oleh globalisasi kekufuran,kemungkaran dan kemaksiatan. Dan pemikiran dan idiologi kufur dan sekuler gencar dipasarkan, pergaulan bebas dan pornografi semakin menjadi-jadi dan merajalela. Penjajahan budaya hedonisme dan budaya asing yang amoral melalui media elektronik maupun media cetak semakin gencar, sementara peredaran narkoba semakin meluas ke masyarakat desa. "Fitnah dan bencana segera datang bagaikan malam yang kelam.

Pagi-pagi orang itu mukmin, petang hari telah menjadi kafir. Petang hari dia mukmin, pagi harinya ia sudah berubah menjadi kafir." Gambaran dari hadist ini salah satunya sudah mulai terjadi. Sekarang kita seakan-akan begitu sulit untuk tetap istiqomah dengan nilai-nilai Islam yang luhur yang diridhoi Allah. Bencana kerusakan idiologi, mental dan budaya datang menyerang dari berbagai penjuru. Dan mereka bergegas melakukan kerusakan yang mendunia. Sementara di sisi lain secara umum dakwah islamiyah yang rahmatan lil 'alamin masih dengan sarana yang tradisional dan belum banyak berkembang.

Sikap Keluarga Muslim

Dalam kondisi seperti di atas maka mempertahankan diri dan keluarga dari berbagai pengaruh yang negatif yang akan mengancam akidah dan perilaku kita sebagai seorang muslim merupakan suatu keharusan. Yang harus segera kita lakukan adalah membekali diri dengan nilai-nilai keimanan dan akhlak yang islami, membuat diri dan keluarga dapat menjadi istiqomah. Artinya : "Hai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka" (QS. 66 : 6). Ali bin Abi Thalib menjelaskan bahwa "Membentengi diri dan keluarga yang fektif adalah dengan proses pendidikan dan pembinaan.

Dengan pendidikan dan pembinaan Islami yang intgral dan benar, akan terbentuklah kepribadian yang kokoh. Sekaligus memiliki imunitas yang kuat dalam menangkal berbagai pengaruh dan rangsangan negatif dari luar. Namun pembentengan diri ini tidak cukup hanya dengan menghindar dan megisolasi diri dari berbagai ancaman eksternal.

Di dalam tafsir Ibnu Katsir (jilid 4, hal 34-42) disebutkan bahwa : "Imam Mujahid mengatakan bahwa membentengi diri dan keluarga adalah dengan menanamkan nilai-nilai ketaqwaan, sehingga dengan nilai tersebut dapat mendorong manusia meningkatkan komitmen dan ketaatannya, dapat menghindarkannya dari berbagai kemungkaran/ kemaksiatan".

Ketahanan keluarga agar tetap komitmen dengan nilai-nilai Islam yang luhur, tidak terpengaruh dengan krisis moral dan frustasi sosial akan semakin efektif jika proses pendidikan dan pembinaan dalam membentuk keluarga Islami terus berjalan secara optimal dan berkesinambungan.

Pembentukan Keluarga Islami

Untuk mewujudkan keluarga Islami yang memiliki ketahanan dan imunitas yang tinggi dalam menghadapi krisis mora dan frustasi sosial maka keluarga hendaknya dapat melakukan minimal lima unsur berikut ini :

1. Keluarga Harus Dibangun Atas Dasar Taqwa

Keluarga muslim harus menjadi keluarga teladan bagi terbentuknya masyarakatIslami yang diridhoi Allah SWT. Oleh karena itu azas pembentukan keluarga sakinah (keluarga Islami) adalah ketaqwaan. Maka kesuksesan suami istri dalam pembentukan keluarga Islami tergantung pada ketaqwaan mereka kpd Allah SWT. Dengan adanya taqwa dari suami-istri, maka terwujudlah kebahagiaan mereka yang sebenarnya, karena dibalik ketaqwaan itu terdapat pengarahan dari Allah terhadap hamba-Nya.

Selain itu dengan ketaqwaan suami istri akan terciptalah saling percaya antara satu sama lain, sehingga masing-masing akan mendapatkanketenangan.Suami istri yang bertaqwa kepada Allah akan melihat pernikahan itu sebagai ibadah untuk mendekatkan diri kepada Allah,sehingga masing-masing dapat melaksanakan wajibannya dan memenuhi hak-hak anggota keluarganya.

Seperti itulah keluarga sakinah (keluarga Islami) yang penuh cinta dan asih sayang. Taqwa kepada Allah membuat suami istri dan seluruh anggota keluarga tunduk patuh pada Allah SWT. Kelak jika terjadi suatu permasalahan keluarga, mereka akan mudah menyelesaikannya, karena semuanya telah tunduk pada peraturan Allah dan Rasul-Nya.

Maka kebahagiaan keluarga dan ketahanannya dari frustasi sosial kembali pada ketaqwaan suami istri sejak awal pernikahan. Kebahagiaan itu ada di dalam jiwa yang bukan disebabkan oleh terlepasnya seseorang dari beban dan kesulitan hidup, bukan pula karena harta yang berlimpah, tetapi kebahagiaan yang diperoleh karena kepuasan hati yang dilanda sicinta karena Allah SWT.

2. Memilih Pasangan Yang Shaleh

Jika seseorang ingin menikah, hendaknya ia mencari pasangan yang shaleh hingga masing-masing dapat saling mencintai dan berupaya untuk membesarkan anak-anaknya di atas prinsip-prinsip ketaqwaan dan akhlaq yg mulia. Di dalam keluarga yang Islami, seluruh anggotanya akan merasakn kenyamanan, ketenangan, ketentraman&kecintaan.

Suasana tersebut dirasakan oleh seluruh nggota keluarga karena keluarga tersebut didirikan oleh suami istri yg shaleh yang sama-sama ingin mewujudkan pengamalan nilai-nilai Islam. Rasulullah SAW memberikan tuntunan kepada para wali calon istri hendaklah memilih suami yg memiliki agama dan akhlaq agar ia dapat melaksanakan kewajiban secara sempurna dalam membimbing keluarga, menunaikan hak istri, pendidikan anak, tanggung jawab yg besar dalam menjaga kehormatan dan menjamin material keluarga Beliau bersabda : Artinya : "Jika orang yang engkau ridhai agama dan kahlaknyamelamar kepadamu, maka nikahkanlah dengannya, Jika kamu tidak menerima (lamarannya) niscaya akan terjadi fitnah dan kerusakan yang besar di muka bumi". (HR. Tirmidzi).

Secara sunatullah, wanita shalehah adalh pasangan bagi pria yang shaleh dan sebaliknya. Sebagaimana Allah berfirman: Artinya : "Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yg keji dan laki-laki yang keji adalah untuk wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita yang baik (pula)." Karena itu setiap pribadi hendakya dapat mewujudkan kepribadian yg islami, sehingga Allah akan menjodohkannya dengan pasangan yg berkepribadian islami pula.

3. Memenuhi Hak dan Kewajiban Suami Istri

Jika masing-masing suami istri dapat menjalankan kewajibannya & memenuhi hak-hak pasangannya maka akan terciptalah keluarga sakinah yg penuh dgn ketentraman dan kebahagiaan. Hak-hak dan kewajiban suami istri ada tiga, yaitu :

a. Hak bersama suami istri, yaitu :
- Mengadakan hubungan kenikmatan seksual
- Berperilaku dengan sebaik-baiknya
- Mendapatkan warisan

b. Hak istri terhadap suami, yaitu :
- Bersifat materi : diberi mahar & nafkah
- Bersifat moral : dicintai, dihormati, diringankan pekerjaan rumahnya, dinasehati, diajak bermusyawarah, diperlakukan dgn adil, bijaksana dan sikap yang lembut.

c. Hak suami terhadap istri, yaitu :
- Ditaati perintahnya yang bukan bermaksiat kepada Allah
- Diberikan pelayanan
- Anak-anaknya diberikan pendidikan yang islami
- Dijaga harta dan amanahnya
- Dibantu dalam melakukan kebaikan dan ketaatan
- Kerabatya diperlakukan dengan sebaik-baiknya

4. Menjunjung Tinggi Nilai-nilai Islam

Setiap keluarga hendaknya menghormati dan menjunjung tinggi nilai-nilai Islam. Hal itu hendaknya dimulai dgn keteladanan kedua orang tua yg selalu komitmen thdp pengamalan nilai-nilai Islam. Keteladanan orang tua sangat diperlukan, sebab proses interaksi anak-anak dan orang tua sangat dekat dalam keluarga. Anak-anak dapat mengetahui kondisi ideal yang diharapkan.

* Buletin KIMJA (FIMNY) Edisi 04/Thn I/Jumat, 04 - 10 Juli 2008.

Artikel Terkait Lainnya :



Comments
0 Comments
Widget edited by fimny

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...